Ntah siapa dan Dari Mana,

Standar

Menangis berderai air mata tak tertahankan mengenang akan hidup dan kehidupan yang telah di lalui selama ini. Sepuluh tahun yang lalu di beri 2 pilihan oleh kedua orang tua *masa itu masih ada bapak tercinta*, setamat dari SMP ini mau lanjut kama yung? masuk dayah/pesantren atau tidak sekolah??? Mendengar kata-kata itu jantung terasa mau meledak, hati lansung menciut, karena tidak ada kata untuk melanjutkan sekolah. Uffhhh ibanya???, hidup dari kalangan yang dangkal akan pendidikan. Pilihan itu dapat dimaklumi dan di terima akal yang sehat, disaat ekonomi sangat morak-marik.

Terdiam tanpa ada jawaban, sehari, dua hari, tiga hari, tidak ada jawaban, tidak ada makan dan tak pernah tidur dirumah. *emang anak yang ngak suka makan, dan tidak senang dirumah*. Dasar anak ini emang bikin orang tua susah, harus dicari ini anak, ntah dimana dia sekarang. Akhirnya pulang sendiri tanpa dicari dan memberikan jawaban akan pertanyaan sebelumnya. Akan tetap sekolah di SMA negeri, kalau itu lulus, walau tidak ada di kasih uang untuk jajan. Tetapi kalau tidak di terima akan masuk dayah/persantren tapi tidak akan pulang-pulang sampai 3 tahun. Jawabannya di terima dengan syarat dan ketentuan tersebut.

Tahun ajaran baru dimasuki, tahun pertama dilalui di kelas paling puncit, paling full AC (tidak ada pintu), dan super wangi (dekat WC). uhhf, sangat menyedihkan. Setahun telah di lalui dan terlewatkan dengan pengorbadan jiwa. Anak yang serba pas-pasan yang selalu telat di jam pertma, di sarankan wali kelasa untuk masuk kelas IA (Ilmu Alam), tetapi dengan sayarat harus remedial, matematika dan fisika. Emang pelajaran yang tidak di minati, karena nilai 70 belum bisa untuk masuk IA, jadi harus 75. Memanglah sekolah percobaan KBK, siswa jadi kelinci percobaan juga.

Tahun kedua dan ketiga terus di lalui di kelas IA yang di isi oleh siswa-siswa pilihan dari kelas lain. Penyakit yang tidak pernah hilang dan tidak akan bisa hilang yang selalu telat di jam pertama pelajaran. Karena sering telat datang di panggil sama guru BP, disini baru diketahui kenapa sianak ini selalu telat datang sekolah. Sesampai di R.BP lansung mendapatkan kata-kata yang menjadi sembilu di dalam hati *kalau pinter ngak apa telat-telat*. Sianak memberikan jawaban akan hal ini.  Mendengar cerita sianak, Guru BP ikut terharu, yang mana pergi kesekolah hanya untuk sekolah, dan untuk sampai sekolah harus dipikir sendiri, karena kadang-kadang ada uang untuk ongkos kadang ngak.

Tiga tahun masa-masa SMA di lalui dengan tangis darah campur debu alhasil mendapat peringkat ke 2 nilai UN se SMA *Alhamdulillah*. Cukup lega hati sianak ini dapat menyelesaikan sekolah tertinggi di keluarganya. Melihat hasil itu, ortu sianak agar mau melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi lagi.  Wakil kepala sekolah juga mengasih tawaran akan nilai UN itu, kalau tidak lulus dalam SMPTN rangking itu akan pindah ke tangan teman. Ortu sangat berharap anaknya mau jadi dokter, sehingga menjumpai wali kelas ke sekolah.

Dengan harap-harap cemas mengikuti SMPTN, karena sudah berbohong sama orang tua akan pilihan, dimana beliau sangat berharap masuk ke dokteran, tetapi memang anak yang ngak bisa menghafal maka mengubah pilihannya tanpa sempengetahuan ortu. Akhirnya pengumuman SMPTN menyatakan sianak ini lulus disalah satu Universitas Terkemuka di Indonesia dengan Akreditasi A. Rasa takut dan bahagia menghatui untuk bicara sama ortu.  Takut karena bukan memilih kedokteran, bahagia karena lulus SMPTN tanpa modal les tambahan seperti teman-teman lain, tetapi hanya modal nekad dan ingin kuliah di Universitas Negeri.

♥ BERSAMBUNG……………………………..>

About buyunkch4n1490

semua yang akan dilakukan di iringi dengan niat yang tulus ikhlas tanpa mengharap sesuatu. saling berbagi apa yang dimiliki, mungkin kita sama-sama membutuhkannya

Komentar ditutup.