Prarencana Pabrik Pembuatan Sabun Kosmetik Dari Crude Palm Oil (CPO) dengan Zat Aditif Pati Jagung

Standar

Sejarah Sabun

Asal mula digunakan sabun sebagai pembersih badan telah ada sejak zaman prasejarah yaitu pada masa Babylon kuno. Saat ditemukannya bahan seperti sabun di dalam suatu bejana yang disimpan dalam tanah dan hasil penggalian ditemukan ukiran di dinding bejana tertulis ”lemak di didihkan bersama abu” yang kemudian digunakan sebagai pendandan rambut. Kemudian ora ng Greek (mesir purba) membasuh badan dengan minyak dengan abu. Pembuatan sabun pada masa itu dimodifikasi oleh Bangsa Italia, Spanyol dan Perancis dengan menc ampur minyak sayuran dan hewan bersama tumbuhan ditambah wangi–wangian ya ng hasilnya digunakan untuk mencukur, shampoo, dan mandi. Pada abad 19 sabun maki n disukai dan dianggap sebagai barang mewah dibeberapa negara Eropa.  Pembuatan sabun secara komersial berm ula pada tahun 1791, seorang ahli kimia asal Perancis Nicholas Leblanc yang membuat abu soda atau sodium karbonat (Na2Co3) dari garam. Kemudian pertengahan tahun 1800 seorang ahli kimia asal Belgia Ernest Solvary menciptakan proses amoniak menggunakan garam (NaCl) untuk membuat abu soda (Na2Co3) dan mendapatkan alkali. Sehingga pembuatan sabun di industri berkembang pesat tahun 1850.

                              (http://pkukmweb.ukm.my/.mamot/stko 322/pendahuluan.html).

Proses Batch

Pada proses batch, alat yang digunakan adalah suatu wadah yang besar yang berfungsi sebagai tempat pendidihan bahan baku seperti lemak binatang. Tempat pendidihan ini disebut juga ketel, sehingga proses batch pada pembuatan sabun disebut proses ketel. Ketel ini berbentuk bulat yang dilengkapi dengan coil pemanas. Bahan baku dimasukkan dari atas alat beserta kaustik soda (NaOH) dan air untuk proses pembuatan sabun. Pemanasan dilakukan selama beberapa jam, sehingga diperoleh berupa sabun murni yang dapat di olah menjadi berbagai bentuk sabun. Pada proses batch ada dua (2 ) proses yang dikembangkan, yaitu Cold – Process Saponification dan Semiboiled Saponification.

1. Cold – Process Saponification
Proses ini merupakan saponifikasi sist em batch yang paling sederhana, karena tidak membutuhkan peralatan yang banyak. Pada proses ini sabun yang dihasilkan mengandung impuritis (zat pengotor) dari sisa-sisa lemak. Lemak secara sederhan dicairkan di dalam suatu bejana yang dile ngkapi dengan alat pe ngaduk dan penambahan sejumlah larutan NaOH (Caustic Soda) dengan pengadukan yang cepat. Setelah proses emulsi dan pengentalan, produk dituangkan pa da alat pencetakan dimana proses saponifikasi disempurnakan dengan cara pendingina dan pengerasan.

2. Semiboiled Saponification
Pada proses atau metode ini sama dengan “Cold – Process” dengan menjaga temperatur lebih tinggi untuk mempercepat saponifikasi dan mengatur jumlah alkali sebelum pencetakan. Lemak dan alkali ( caustic soda) dicampur pada temperatur 0–80 oC sampai sabun licin. Dan bila akan dicetak maka sabun diberi aroma.

Proses Kontinyu

Pada proses kontinyu, pembuatan sabun diawali dengan mengubah bahan baku minyak menjadi asam lemak dan ditambahkan NaOH (caustic soda ), sehingga diperoleh produk berupa sabun murni. Pembuatan asam lemak terjadi di dalam hidrolizer atau proses ini disebut proses hidrolisa.
Ada 2 (dua) metode yang dikemb angkan untuk proses kontinyu, yaitu: Procter and Gamble Process dan Sharples Process.

1 Procter and Gamble Process atau Safonifikasi Asam Lemah
Pada tahun 1938, perusahaan Procter and Gamble Process memulai membuat  dengan proses kontinyu dengan cara mengubah lemak menjadi sabun. Lemak dan seng oksida (ZnO) sebagai katalis direaksikan s ecara counter-current dengan air di dalam tangki hidrolisa. Temperatur dijaga 250 – 300 oC dan tekanan 60 – 70 Psia. Pada hidrolizer akan dihasilkan asam lemak pada ba gian atas dan gliserol pada bagian bawah. Asam lemak kemudian didistilasi pada keadaan vakum dan dinetralisasi pada proses kontinyu. Hal ini dilakukan de ngan perbandingan larutan NaOH ( caustic soda) dan garam dengan pencampuran yang cepat. Dan dihasilkan berupa sabun murni yang dapat diolah menjadi berbagai bentuk.

2 Sharples Process atau Proses Safonifikasi Langsung Trigliserid.
Pada metode Sharples Process, lemak dapat diubah secara langsung menjadi sabun murni dengan menggunakan sistem centrifuge (pemutar) agar dapat memisahkan antara alkali dan gliserol.
Proses saponifikasi dilakukan dalam 2 (dua) tingkatan, dimana setiap tingkatan menggunakan mixer dan centrifuge. Proses awal dimulai dengan trigliserida (CPO) dan natrium hidroksida yang diumpankan ke dalam tangki pemanas pada suhu 70 oC kemudian di aduk selama 30 menit sehingga terbentuk sabun. Lebih dari 99,5% minyak dapat di safonifikasi pada proses ini. Has il yang diperoleh kemudian ditambahkan pada tangki mixer I, bahan yang di tamba hkan pada tangki mixer I adalah TiO2, gliserin, dan tepung jagung. Percampuran bahan ini di lakukan pada suhu 60 – 70 oC. Selanjutnya di umpankan pada tangki mixer II,dan di tambahkan pewarna pada suhu 40 oC, selama proses pemanasan dan percampuran, sabuh harus diaduk secara homogen. Hasilnya kemudiaan didinginkan lalu dimasukan kedalam cetakan dan dibiarkan mengeras.

About buyunkch4n1490

semua yang akan dilakukan di iringi dengan niat yang tulus ikhlas tanpa mengharap sesuatu. saling berbagi apa yang dimiliki, mungkin kita sama-sama membutuhkannya

Komentar ditutup.