Prarencana Pabrik Minyak Jagung

Standar

Jagung yang merupakan salah satu dari enam komoditas, memiliki potensi besar untuk diolah dengan nilai jual yang tinggi. Bagi Indonesia, jagung merupakan tanaman pangan kedua setelah padi. Bahkan, di beberapa tempat, jagung merupakan bahan makanan pokok utama pengganti beras atau sebagai campuran beras.Telah dikembangkan berbagai macam produk yang dapat dibuat  dari jagung, seperti sirup dari jagung , tepung jagung / maizena, minyak jagung  dan lainnya (Purwono dan Hartono, R, 2005).

Kegunaan jagung
Secara garis besar, kegunaan jagung dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu bahan pangan, pakan ternak dan bahan baku industri.

a. Bahan pangan
Jagung merupakan konsumsi sehari-hari bagi sebagian masyarakat Indonesia. Biasanya jagung dibuat dalam bentuk makanan seperti nasi jagung, bubur jagung, dan banyak lagi makanan tradisional yang berasal dari jagung.

b. Bahan pakan ternak
Para peternak di Amerika menganggap jagung yang merupakan co-product dari proses pembuatan minyak jagung sebagai pakan ternak, bukanlah suatu hal yang baru. Penggunaan pakan ternak hasil proses wet mill pada beberapa peternakan sapi di Amerika dan peternakan unggas menunjukkan daya tahan hewan-hewan itu lebih baik. Bahkan sapi yang diternak bertambah beratnya dan tidak berpengaruh pada susu perahan yang dihasilkan ( Kalscheur, 2004).

c. Bahan baku industri
Di pasaran, banyak beredar produk olahan jagung. Produk olahan jagung tersebut umumnya berasal dari industri skala rumah tangga hingga industri besar. secara garis besar, beberapa industri yang mengolah jagung menjadi produk sebagai berikut :

  • Industri giling kering, yaitu menghasilkan tepung jagung.
  • Industri giling basah, yaitu menghasilkan pati, sirup, gula jagung, minyak jagung, dan detrin.
  • Industri destilasi dan fermentasi, yaitu industri yang menghasilkan etil
  • alkohol, aseton, asam laktat, asam sitrat, gliserol dan lain-lain (Purwono dan Hartono R., 2005).

Dewasa ini, masyarakat semakin menyadari pentingnya segi kesehatan dari setiap bahan pangan yang dikonsumsi. Hal ini didorong oleh banyaknya penelitian medis yang membuktikan penyebab dari penyakit-penyakit kronis yang banyak disebabkan oleh pola hidup tidak sehat masyarakat serta pemilihan bahan pangan yang kurang baik untuk dikonsumsi. Pada sisi lain, salah satu cara untuk meningkatkan nilai jual jagung adalah dengan mengkonversi jagung agar dapat digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan pangan yang lebih sehat. Oleh sebab itu itu minyak jagung sebagai salah satu hasil konversi dari jagung yang merupakan bahan pangan yang terbukti lebih sehat, sudah mulai digunakan oleh masyarakat.

Ada beberapa alasan yang relevan dalam pemilihan jagung sebagai bahan baku dalam pabrik pembuatan minyak ini, antara lain :

  • Jagung mudah didapat, karena jagung merupakan tanaman yang masa panennya singkat, tanpa tergantung musim, dan dapat tumbuh dengan baik pada daerah dataran tinggi maupun dataran rendah. Harga bahan baku murah, tetapi memiliki nilai jual produk pengolahan (minyak jagung) yang relatif tinggi.
  • Dari segi kesehatan minyak jagung memiliki komposisi yang lebih baik dari minyak kelapa sawit yang lazim digunakan sebagai minyak goreng oleh masyarakat.
  • Ampas (hasil samping) pengolahan minyak jagung dapat dijadikan pakan ternak (Nasution, 1998)

Komposisi biji jagung
Jagung termasuk tanaman yang familiar bagi sebagian masyarakat. Seiring dengan perkembangan teknologi, saat ini banyak beredar berbagai jenis jagung. Tanaman jagung termasuk dalam klasifikasi rumput-rumputan dengan spesies zea mays L .

Dari segi kandungan protein, jagung merupakan salah satu tanaman yang terendah kandungan asam amino esensialnya apabila dibandingkan dengan serealia penting lainnya. Kandungan minyak jagung berada di kisaran 4%, tetapi terdapat beberapa jenis jagung dengan kandungan minyak hingga 10-12% (Purwono dan Hartono R., 2005).

Komposisi minyak jagung
Dalam tiap komposisinya, ternyata minyak jagung mempunyai persentase (%) sebesar nol persen untuk jumlah kolesterol. Persentase komposisi minyak jagung secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 2.3, yang menyajikan persentase (%) komposisi minyak jagung baik komposisi minyak jagung mentah maupun komposisi minyak jagung olahan.

Pemilihan Proses

Untuk memproduksi minyak jagung, prosesnya dibagi dalam beberapa tahap yaitu dengan cara ekstraksi dari lembaga jagung dan pemurnian melalui proses netralisasi, pemutihan (bleaching), dan deodorisasi. Umumnya untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan –bahan yang diduga mengandung minyak dilakukan yaitu dengan cara ekstraksi. Adapun cara ekstraksi ini bermacam-macam, salah satunya dengan rendering . Baik secara dry rendering maupun wet rendering. Rendering merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak dengan kadar air yang tinggi. Pada semua cara rendering , penggunaan panas adalah suatu hal yang spesifik yang bertujuan untuk menggumpalkan protein pada dinding sel bahan (Ketaren, 1986).

A. Dry Rendering
Dry rendering adalah cara rendering tanpa penambahan air selama proses berlangsung. Dry rendering dilakukan dalam ketel yang terbuka dan dilengkapi dengan steam jacket serta alat pengaduk (agitator). Bahan yang diperkirakan mengandung minyak atau lemak dimasukan ke dalam ketel tanpa penambahan air. Bahan tadi dipanasi sambil diaduk. Pemanasan dilakukan pada suhu 220-230 0F (105-110 0C). Ampas yang telah diambil minyaknya diendapkan pada dasar ketel. Minyak atau lemak yang dihasilkan dipisahkan dari ampas yang telah mengendap dan pengambilan minyak dilakukan dari bagian atas ketel.

B. Wet Rendering
Wet rendering adalah proses rendering dengan penambahan sejumlah air selama berlangsungnya proses tersebut. Cara ini dikerjakan pada ketel terbuka atau tertutup dengan menggunakan temperatur yang tinggi serta tekanan 40-60 pound . Tekanan sampai 60 pound , tekanan uap (40-60 psia). Penggunaan temperatur rendah dalam proses ini dilakukan jika diiginkan flavour netral dari
minyak atau lemak. Bahan yang akan diekstraksi ditempatkan pada ketel yang dilengkapi dengan alat pengaduk, kemudian air ditambahkan dan campuran tersebut dipanaskan perlahan-lahan sampai suhu 50 0C sambil diaduk. Minyak yang terekstraksi akan naik keatas dan kemudian dipisahkan.

Proses wet rendering menggunakan temperatur rendah kurang begitu populer, sedangkan proses wetrendering menggunakan temperatur yang tinggi disertai tekanan uap air, digunakan untuk menghasilkan minyak atau lemak dalam jumlah besar. Peralatan yang di gunakan adalah autoclave atau digester. Air dan bahan yang akan diekstraksi dimasukan ke dalam digester dengan tekanan uap air sekitar 40-60 lb/in2 selama 4-6 jam ( Ketaren, 1986). 

Adapun yang menjadi perbandingan proses pengambilan minyak jagung antara proses kering (dry rendering ) dan proses basah (wet rendering ) dapat disajikan dalam Tabel 2.4

About buyunkch4n1490

semua yang akan dilakukan di iringi dengan niat yang tulus ikhlas tanpa mengharap sesuatu. saling berbagi apa yang dimiliki, mungkin kita sama-sama membutuhkannya

Komentar ditutup.