Prarancangan Pabrik Tepung Rumput Laut Dari Algae Euchema Sp

Standar

Rumput laut (seaweeds) sangat populer dalam dunia perdagangan. Dalam ilmu pengetahuan rumput laut dikenal sebagai Algae. Rumput laut tumbuh dan tersebar hampir di seluruh perairan Indonesia. Tumbuhan ini bernilai ekonomis penting karena penggunaanya sangat luas terutama dalam bidang makanan dan kosmetika. Jenis yang bernilai ekonomis penting adalah Acanthopeltis, Gracilaria, Ahnfeltia, Gelidium, Pterocladia sebagai penghasil agar-agar; Chondrus, Eucheuma, Gigartina, Hypnea, sebagai penghasil carrageenan; Furcellaria sebagai penghasil furcelaran; dan Ascophyllum, Durvillea, Ecklonia, Turbinaria sebagai penghasil alginat.

Carrageenan merupakan senyawa hidrokoloid yang terdiri atas ester kalium, natrium, magnesium dan kalium sulfat dengan galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa kopolimer. Carrageenan adalah suatu bentuk polisakarida linear dengan berat molekul di atas 100 kDa (Winarno 1996 ; WHO 1999). Carrageenan tersusun dari perulangan unit-unit galaktosa dan 3,6-anhidro galaktosa (3,6-AG). Keduanya baik yang berikatan dengan sulfat atau tidak, dihubungkan dengan ikatan glikosidik a–1,3 dan b–1,4 secara bergantian (FMC Corp 1977).

Manfaat rumput laut tidak hanya terbatas sebagai bahan industri iodium. Rumput laut mengandung berbagai zat dan bahan yang berguna dalam berbagai industri. Zat-zat tersebut berserta kegunaanya antara lain:

  1. Algin; digunakan dalam industri kosmetika untuk membuat sabun, cream, lotion, shampo, dan pencelup rambut. Industri farmasi memerlukannya untuk membuat suspensi, emulsifier, stabilizer, tablet, salep, kapsul, plester dan filter. Juga digunakan dalam beberapa proses industri sebagai bahan additive antara lain pada industri tekstil, kertas, keramik, fotografi, insektisida, peptisida, pelindung kayu, dan pencegah api.
  2. Agar–agar; digunakan dalam industri makanan sebagai thickiener dan stabilizier. Dalam industri farmasi agar-agar sebagai peluntur dan kultur bakteri. Dalam industri kosmetika digunakan dalam pembuatan salep, cream, sabun, dan pembersih wajah atau lotion. Beberapa industri lain menggunakan agar-agar sebagai bahan additive, misalnya dalam beberapa proses pada industri kertas, tekstil, fotografi, semir sepatu, tapal gigi, pengalengan ikan atau daging, dan juga untuk kepentingan mikrotomi museum dan kriminologi.
  3. Carrageenan; merupakan suatu galaktan dan umum digunakan pada industri makanan, khususnya sebagai emulsifier pada industri minuman. Carrageenan juga dimanfaatkan pada industri kosmetika, tekstil, obat-obatan, cat, dan juga sebagai materi dasar aromatik diffuser.

Jenis – Jenis Proses Carrageenan

Selain semirefine, hasil olahan rumput laut (karaginofit) yaitu refine carrageenan (karagenan murni). Proses produksi untuk mendapatkan carrageenan murni melalui proses ekstraksi carrageenan dari rumput laut, ada dua metode proses produksi, yaitu metode alkohol (alcohol method) dan metode tekan (pressing method).

1 Metode Alkohol (Alcohol Method)

Metode ini dapat digunakan untuk memproduksi carrageenan dari Eucheuma spinosum yang menghasilkan iota-carrageenan dan Eucheuma cottonii yang menghasilkan kappa-carrageenan. Alur proses carrageenan dengan metode alkohol sebagai berikut:

  • Bersihkan rumput laut kering dari kotoran yang berupa pasir, garam, dan jenis-jenis rumput lain. 
  • Perlakuan alkali: rumput laut bersih dimasak dalam larutan alkali dengan konsentrasi tertentu pada temperatur 85–90  oC selama 2 jam. Larutan alkali yang digunakan berupa KOH atau NaOH.
  • Penghancuran/agitasi: hancurkan rumput laut yang telah mengalami perlakuan alkali menjadi seperti bubur dengan proses pengadukan atau agitasi.
  • Ekstraksi: rumput laut dimasak dalam kondisi alkali/basa (pH 8-9) dengan temperatur pemasakan 90 oC selama 18 jam untuk Eucheuma cottonii dan 2-3 jam untuk Eucheuma spinosum. Selama proses ekstraksi, larutan diaduk menggunakan mesin pengaduk.
  • Penyaringan/filtrasi: saring bubur dengan cepat dalam keadaan panas dengan menggunakan filter press sehingga filtrat dalam bentuk sol (cairan kental) dapat terpisah dari residu/ampas padat.
  • Penambahan alkohol: alkohol yang digunakan dalam industri carrageenan yaitu isopropanol (di laboratorium umumnya digunakan etanol). Tambahkan isopropanol secara perlahan-lahan (sedikit demi sedikit) pada filtrat, sambil diaduk sampai terbentuk serat carrageenan yang akan terpisah dengan cairannya.
  • Pengeringan dan penepungan (grinding): serat carrageenan dikeringkan dalam alat pengering pada suhu 60 oC selama 15-20 jam, kemudian dibuat tepung dengan mesin grinding.
  • Pengemasan: tepung carrageenan dikemas dalam kantong-kantong plastik atau karton untuk bisa dipasarkan.

Biaya produksi pada proses pengolahan carrageenan dengan metode alkohol tinggi, sehingga saat ini jarang digunakan dalam industri, kecuali untuk produksi iota-carrageenan. Pada saat ini, metode proses yang digunakan untuk produksi kappa-carrageenan yaitu metode tekan (pressing method), baik dengan atau tanpa penambahan KCl.

2 Metode Tekan (Pressing Method)

Metode ini hanya digunakan untuk produksi kappa-carrageenan dengan bahan baku Eucheuma cottoni. Urutan proses produksi hampir sama dengan metode alkohol, hanya berbeda teknik dalam pemisahan carrageenan dari larutan sol. Alur proses produksi carrageenan dengan metode tekan sebagai berikut:

  • Bersihkan rumput laut kering dari kotoran yang berupa pasir, garam dan jenis-jenis rumput lain.
  • Perlakuan alkali: rumput laut bersih dimasak dalam larutan alkali KOH/NaOH dengan konsentrasi tertentu pada temperatur 85 oC–90 oC selama 2 jam.
  • Penghancuran/agitasi: rumput laut yang telah mengalami perlakuan alkali menjadi seperti bubur dihancurkan dengan proses pengadukan atau agitasi.
  • Ekstraksi: rumput laut dalam kondisi alkali/basa pH 8-9 dimasak dengan temperatur pemasakan 90 oC selama 18 jam. Selama proses ekstraksi, larutan diaduk menggunakan mesin pengaduk.
  • Penyaringan/filtrasi: bubur dengan cepat disaring dalam keadaan panas dengan menggunakan filter press sehingga filtrat dalam bentuk sol (cairan kental) dapat terpisah dari residu/ampas padat.
  • Penjedalan: ditambahkan larutan KCl dengan konsentrasi tertentu pada filtrat larutan sol, kemudian aduk. Tuangkan larutan ke dalam cetakan/loyang, diamkan pada suhu kamar sampai menjedal membentuk gel. Proses penjedalan dapat juga dilakukan dalam pembekuan ruangan pendingin/freezer selama 12 jam. Pada industri besar, biasanya menggunakan conveyor (ban berjalan) pendingin sampai menjedal. Selain itu, bisa juga menggunakan tabung pendingin (tube coller), dimana larutan sol dialirkan ke dalam tabung pendingin, kemudian ditekan secara hidrolik sehingga larutan sol yang sudah menjedal (gel carrageenan) keluar dari tabung pendingin.
  • Proses tekan: air dikeluarkan dari gel carrageenan dengan cara ditekan (press). Caranya, susun gel secara berlapis-lapis, masing-masing dibatasi dengan kain saring, lalu tekan dengan beban selama 12-24 jam sehingga diperoleh bentuk lembaran karaginan. Dalam skala industri, pengepresan menggunakan alat yang  disebut dengan hydroextractor.
  • Pengeringan: untuk memudahkan pengeringan, potong-potong lembaran carrageenan (memperluas permukaan kontak), kemudian keringkan dengan alat pengering pada temperatur 60 oC sampai kering. Dalam skala industri besar, biasanya lembaran carrageenan dibentuk menjadi pellet, lalu dimasukkan ke dalam mesin pengering tertutup (sistem tertutup) untuk mengurangi kontak langsung dengan udara terbuka.
  • Pembentukan tepung: lembaran carrageenan dalam bentuk pellet yang sudah kering dijadikan tepung melalui proses grinding.
  • Pengemasan: tepung carrageenan dikemas dalam kantong-kantong plastik atau karton untuk bisa dipasarkan.

About buyunkch4n1490

semua yang akan dilakukan di iringi dengan niat yang tulus ikhlas tanpa mengharap sesuatu. saling berbagi apa yang dimiliki, mungkin kita sama-sama membutuhkannya

Komentar ditutup.